FOG
Jalan protokol dan gang di belakangnya

Jalan kaki keliling Jakarta dan lihat berapa yang sudah kamu tutupi

FOG menyembunyikan seluruh peta dunia di bawah kabut. Tiap jalan yang benar-benar kamu susuri terbuka permanen. Di Jakarta, itu termasuk gang sempit di belakang jalan besar, yang biasanya diabaikan hampir semua peta.

Bentuk jalan kakinya

Jakarta itu datar. Hampir seluruh kotanya duduk di dataran pantai beberapa meter di atas permukaan laut, dipotong kanal-kanal dan Kali Ciliwung. Tidak ada yang akan membuat kakimu pegal di sini karena tanjakan. Kesulitannya sepenuhnya soal panas, lalu lintas, dan kondisi trotoar.

Struktur jalannya bertingkat dua, dan justru itu yang membuat kota ini menarik untuk dipetakan. Ada jalan protokol yang besar: Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Jalan Gatot Subroto, lebar, cepat, berjejer gedung tinggi. Lalu di belakangnya, mengisi tiap blok, ada jaring padat berisi gang, lorong permukiman sempit di kampung-kampung, sering terlalu kecil untuk mobil dan sama sekali tidak kelihatan kalau kamu cuma bepergian lewat jalan raya.

Menyusuri jalan protokol memberimu garis lurus yang panjang. Menyusuri gangnya memberimu teksturnya. Yang kedua jauh lebih lambat dan jauh lebih menarik.

Satu rute yang konkret

Mulai dari Monumen Selamat Datang di Bundaran HI lalu jalan ke selatan menyusuri Jalan Thamrin, yang menyambung jadi Jalan Sudirman. Trotoar di koridor ini sudah dilebarkan dan memang bagus, yang tidak berlaku untuk sebagian besar kota. Ikuti sampai simpang susun Semanggi, lalu memutar balik ke utara lewat Menteng, kawasan taman berbangunan rendah yang jalannya rindang, melengkung, dan tenang menurut ukuran Jakarta.

Untuk sesuatu yang benar-benar lain, pergilah ke Kota Tua di utara. Inti Batavia lama di sekitar Taman Fatahillah itu padat, kolonial, dan bisa dijalani dengan cara yang tidak berlaku di bagian kota lain. Dari sana kamu bisa lanjut ke utara menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Sudut itu terbuka cepat dan hasilnya enak dilihat karena bloknya kecil-kecil.

Pada Minggu pagi, Car Free Day menutup Thamrin dan Sudirman dari kendaraan. Itu jauh dan jauh jam terbaik dalam seminggu untuk menutupi tulang punggung kota dengan kaki.

Kenapa kabutnya berat dibuka di sini

Jakarta salah satu kawasan perkotaan terbesar di bumi dan memang tidak dibangun untuk pejalan kaki. Trotoar tiba-tiba hilang, dipakai parkir motor dan gerobak makanan, atau berubah jadi tutup got yang lebih baik tidak kamu injak. Menyeberangi jalan enam lajur kadang menuntut kamu jalan beberapa ratus meter dulu ke jembatan penyeberangan. Semua itu berarti luas terbuka di petamu tumbuh pelan dibanding tenaga yang kamu keluarkan.

Yang bikin sepadan justru kampungnya. Karena gang-gang itu sangat padat, dua puluh menit berkeliling di dalam satu kampung membuka satu blok peta yang mengejutkan solidnya. Kamu benar-benar merasa sudah menutupi sebuah tempat, bukan sekadar menarik garis melewatinya. Di sinilah FOG juga menunjukkan sesuatu yang tidak bisa ditunjukkan peta jalan, karena banyak gang itu bukan rute yang akan pernah disodorkan siapa pun kepadamu.

Siapkan diri melihat peta berbentuk beberapa koridor tebal dengan gerombolan padat menggantung di sisinya. Memenuhi seluruh kota bukan pilihan yang realistis. Memenuhi kelurahanmu sendiri jelas realistis.

Panas, hujan, dan sinyal

Panas. Panas dan lembap sepanjang tahun, dengan matahari tepat di atas kepala menjelang tengah hari. Pagi buta satu-satunya jendela yang nyaman untuk jalan jauh. Sore lebih sejuk tapi lalu lintasnya paling parah.

Hujan. Musim hujan berjalan kira-kira November sampai Maret dan hujannya deras. Banjir menutup jalan di kawasan rendah, dan sebagian gang benar-benar tidak bisa dilewati. Rencanakan dengan itu di kepala.

Sinyal. Di antara gedung tinggi sepanjang Sudirman, posisimu bisa melenceng, seperti di koridor bergedung tinggi mana pun. Di kawasan kampung yang bangunannya rendah, pelacakannya bagus.

FOG terus membuka kabut sementara aplikasinya ditutup dan layarnya mati, jadi HP-nya bisa kamu masukkan tas. Tanpa akun, tanpa cloud, tanpa iklan, tanpa analitik, dan petanya tidak pernah keluar dari perangkatmu.

Pertanyaan yang benar-benar ditanyakan

Naik motor atau mobil dihitung?

FOG dibuat untuk jalan kaki, lari, dan bersepeda. Intinya bergerak dengan tenagamu sendiri, bukan memenuhi peta dari atas kendaraan.

Gang kecil ikut terekam?

Ya. FOG membuka kabut berdasarkan tempat yang benar-benar kamu datangi, bukan berdasarkan jalan mana yang dikenali peta, jadi gang kampung terbuka sama seperti jalan lain.

Berapa biaya untuk membuka semuanya?

Menjelajah itu gratis. FOG Unlimited dibeli sekali saja, dan itu membuka semua rank sampai Atlas, seluruh 25 perlengkapan, ketiga jalur sisanya, dan impor riwayat dari Linimasa Google Maps serta file GPX. Tanpa langganan.

Data lokasi saya dikirim ke suatu tempat?

Tidak. Tidak ada akun, tidak ada pendaftaran, tidak ada cloud, tidak ada pelacakan. Petamu tetap di HP dan kamu bisa mengekspornya sendiri.

Jakarta cocok buat mulai?

Cocok, dengan catatan kotanya sangat besar. Di tingkat kelurahan, kemajuannya kelihatan jelas. Di tingkat kota, lambat. Menggarap satu kecamatan dulu membuatnya terasa masuk akal.

Mulai dari peta yang gelap.

FOG gratis untuk dijelajahi. Tanpa akun, tanpa langganan, dan petamu tidak pernah keluar dari HP kamu.

gratis untuk menjelajah · sekali beli membuka semuanya · tanpa langganan